-->
https://raushan-design.blogspot.com/

Followers

Topi Terakhir Nenek (Sebuah Persembahan di Hari Pendidikan Nasional)

 #kisah_Nyata

#DiarySangGuru

 

Sesuai instruksi dari kepala sekolah, pagi ini keluarga besar SDN Kapedi I akan mengadakan upacara Hardiknas. Dewan guru diharuskan memakai seragam korpri. Agak was-was juga dengan ukuran seragamku setelah lebaran ini, memang saat puasa timbangan jalan ke kiri, tapi setelah beberapa hari lebaran, ia sepertinya balas dendam dengan rute nganan.

Adodo..!

Benar saja! Harus ada siasat untuk bisa mengenakan seragam korpri di hari penting ini.  Jadilah ia sebuah blazer yang dipadukan dengan manset panjang, ditambah jurus satset ala Batmam Teacher dengan empat anak yang sangat sibuk di pagi hari. Alhamdulillah, tiba di sekolah dengan selamat lalu segera kedip-kedip depan layar SIC dan berbaris di halaman untuk mengikuti upacara.




Upacara dimulai dengan Belva sebagai pemimpin upacara dan dipimpin langsung oleh kepala sekolah, Bapak Sujibno.

“Kepada pemimpin upacara, hormaat grak!” suara Kiara siswa kelas 1 yang berada di barisan paling kanan terdengar dengan lantang. Semua siswa memberi hormat pada pemimpin upacara.

Hari ini tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional, biasanya di sekolah memang dilaksanakan upacara. Bahkan di tingkat kabupaten biasanya diberikan anugerah atau apresiasi bagi insan pendidikan yang berprestasi atau berdedikasi dalam dunia pendidikan. Saya pun mengucapkan selamat sukses untuk mereka pejuang pendidikan ini.

Kali ini saya mengapresiasi pejuang pendidikan yang tak pernah disorot orang. Mereka adalah para wali murid yang setiap hari mengantar jemput bahkan menunggu sepanjang hari putra putrinya untuk sekolah, seperti di sekolah saya yang ada beberapa orang tua siswa kelas satu yang menemani di luar kelas menunggu putra putri mereka sekolah. bahkan di antara mereka adalah kakek atau nenek siswa. 

Setiap hari mereka duduk rapi di tempat yang disediakan sekolah tanpa wajah lelah walau mungkin mereka bukannya tidak ada pekerjaan lain di rumah, tapi demi putra putrinya bersekolah mereka rela berdiam di sekolah sampai bel pulang. Bagi saya pribadi, orang-orang ini juga para pejuang pendidikan.

“Lapor.. kelas satu siap mengikuti upacara!” suara lantang Kiara membuyarkan lamunan saya tentang barisan pahlawan pendidikan yang tak dilirik orang. Saya kembali fokus mengikuti upacara. Namun tidak lama setelah itu, di luar gerbang terdengar riuh wali murid yang berhambur ke arah jalan. Sepertinya telah terjadi sesuatu di depan gerbang sekolah.

“Neneknya Sipul ditabrak sepeda, baru saja antar cucunya ke sekolah.” Kata salah satu mereka yang dapat saya dengar jelas, posisi saya memang berada di dekat gerbang mendampingi barisan siswa kelas satu dan dua.

Suara hiruk pikuk semakin kencang dengan tangisan beberapa ibu-ibu lainnya. Akhirnya saya keluar dari barisan dan bergegas melihat langsung apa yang terjadi di depan gerbang sekolah.

“Siapa Pak?” Tanya saya pada beberapa orang di sepanjang jalan.

              “Gak tau, Bu. Katanya wali murid habis mengantarkan putranya ke sini.” Jawab seorang bapak yang membuat hati saya bergemuruh. Duh! Semoga selamat, doa saya dalam hati.

Saya percepat langkah menuju lokasi kejadian, hanya beberapa meter ke timur dari gerbang sekolah terlihat genangan dar*h yang begitu banyak.

‘Allahuakbar..!’ pekik saya dalam hati saat melihat seorang nenek terkapar dengan dar*h segar mengalir dari belakang kepala, telinga, hidung dan mulutnya. Matanya terpejam dengan nafas tersenggal-senggal. Sementara di sampingnya seorang ibu lebih muda menangis histeris dan berkali-kali pingsan melihat sang korban.

“Tolong pak.. tolong bawa ibu saya ke rumah sakit!” teriak ibu tadi memohon kepada para lelaki yang mulai berdatangan. Saya tidak tahu mesti berbuat apa, sementara tak ada seorang pun yang berani mendekat. Mereka hanya terpaku dan meringis melihat korban, bahkan ibu-ibu yang datang  histeris berlari tidak tega melihatnya.

Seorang berpakaian serba putih mungkin perawat (entah dokter) yang lewat atau mungkin dari puskesmas pembantu terlihat memeriksa nadi di lehernya.

“Gimana Pak?” Tanya saya sambil berbisik.

“Parah, Bu.” Jawabnya pelan.

Sementara ibu yang kemudian saya ingat dia adalah putri dari korban masih histeris dan berkali-kali tergeletak pingsan. Saat sadar dia meminta tolong agar orang-orang membawa ibunya ke puskesmas. Orang-orang mencoba meminta bantuan pada mobil-mobil yang lewat. Nihil, tak ada mobil yang mau membawa korban ke puskesmas.

Ya Allah… nyesek sekali mendapatkan kenyataan ini. Tidak ada satu pun mobil yang mau untuk diajak berhenti. Mungkin mereka masih memegang mitos jika membawa korban kecelakaan atau jika meninggal di atas mobil akan menyebabkan mobil tersebut mengalami kesialan. Ya Allah..! kasihan sekali mereka.

“Pak tolong pak…!” saya ikut berteriak memohon bantuan para sopir mobil yang dihadang orang-orang. Tak ada yang mau berhenti. Mereka hanya meringis dan segera berlalu.

Melihat keadaan yang sepertinya tidak mungkin membawa ibu ke rumah sakit, akhirnya saya berhenti memohon bantuan para sopir. Saya sadarkan ibu yang histeris di samping korban dipangku seorang perempuan muda.

“Ibu, sabar Bu. Sudah.. ayo kita sebut asma Allah di telinga nenek. Kasihan, Bu..!” ajak saya yang membuat ibu ini beringsut mendekati nenek..

“Allah Allah…” saya memulai di dekat telinga nenek. Sang Ibu pun mengucapkan lafadz Allah di dekatnya dengan teriakan tak tertahan.

“Allah.. Allah…!” hanya itu yang bisa kami lakukan di saat tak ada yang bisa diharapkan.

Sementara para bapak terdengar masih meminta bantuan setiap mobil yang lewat untuk berhenti, setidaknya mereka berusaha walau berkali-kali gagal. Akhirnya ada sebuah mobil carry pickup berwarna putih yang bersedia, ia memutar haluan dengan mendekatkan bagian belakang mobilnya ke dekat korban.

“Pak tolong pak, angkat nenek ke atas mobil..!” teriak saya pada beberapa bapak yang berdiri menyaksikan. Hanya beberapa orang yang mendekat, pastinya tidak akan kuat mengangkat tubuh nenek. Mungkin gak tega melihat dar*ah yang terus mengucur, mereka memilih menyaksikan saja. Ya Tuhan! Dari mata kepala saya sendiri saya menyaksikan nenek sekarat di pinggir jalan seperti ini tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Allah.. Allah…!”  kembali saya ajak putrinya membaca kalimat toyyibah di samping nenek. Saya melihat perubahan nafas nenek yang semakin melemah.

“Allah Allah…”

Perawat kembali memeriksa denyut nadi nenek. Dia juga memeriksa kedua bola mata si nenek yang tidak lagi merespon.

“Allah…!” pekik saya tertahan saat menyaksikan nafas nenek berhenti.

“Sudah gak ada.” Kata perawat yang menambah histeris sang putri.

“Innalillahi wainnailahi rojiun…”

Perawat menutup mata sang nenek, lalu seorang bapak membuka baju miliknya dan ditutup ke muka nenek.

“Ada tali untuk mengikat tangannya?” Tanya perawat lagi. Ah mana ada tali di pinggir jalan begini, pikirku. Tapi saya tidak putus asa mencari, saya tanya sopir mobil pickup mungkin ada tali raffia di dalam sana.

Gak ada. 

Akhirnya pilihan jatuh pada kerudung hitam milik putrinya. Perawat menyilangkan tangan nenek, saya mengikatkan kerudungnya dengan kencang dengan perasaan masih bergemuruh.

Allah… Allah…

Rasanya tidak percaya dengan apa terjadi. Saya pun beringsut keluar dari keramaian dengan dar*h masih menempel di tangan saya. Saya duduk di tepi jalan, mendengarkan kisah mereka yang melihat kejadian tadi.

“Nenek Sipul ini tadi mengantarkan cucunya ke sekolah dengan jalan kaki, lalu karena akan ada upacara, sang nenek kembali pulang mengambil topi cucunya yang ketinggalan. Dia sudah mengantarkan topi itu pada cucunya. Lalu berniat membeli sayur ke toko sebelah. Makanya nyeberangnya tidak di depan gerbang. Biasanya dia kalau nyeberang dibantu Pak Satpam setiap harinya.” Cerita para ibu di pinggir jalan.

Duh.. ternyata si nenek dua kali bolak balik ke sekolah dengan jalan kaki untuk mengantar cucunya sekolah dan tidak membiarkan cucunya upacara tanpa topi. Saya masih terdiam mendengar cerita mereka.

“Mak Ni ini hanya tinggal bertiga dengan anak perempuannya dan siful yang yatim. Bapaknya sudah meninggal dan kakak lelakinya juga meninggal karena kecelakan sepulang sekolah juga di jalan ini.” Cerita mereka lagi yang membuat saya kaget.

“Siapa Bu?” Tanya saya penasaran.

“Ubay namanya, dulu dia pulang sekolah tertabrak mobil di sini lalu meninggal di rumah sakit pamekasan.”

“Ya Allah..” Ingatan saya kembali saat tahun 2016 lalu, saya ikut mengatar Ubay ke puskesmas Pragaan lalu menjenguknya di Rumah Sakit Pamekasan sebelum meninggal. Rupanya nenek yang meninggal barusan ini adalah nenek Ubay. Keduanya meninggal kecelakaan di jalan yang sama dan di saat pulang dari sekolah. Semoga keduanya ditempatkan di surgaNya.

Perasaan saya tambah tidak karuan, saya pun berniat kembali ke sekolah untuk mencuci darah yang menempel di kedua tangan. Sepertinya upacara baru saja selesai, beberapa anak berlarian. Mereka di antara siswa, terlihat seorang murid lelaki kelas  satu dengan seragam lengkap yang dituntun oleh guru keluar pagar sekolah..

“Siful…!” pekik ibu-ibu yang berdiri di dekat gerbang. Duh!

Rupanya dialah sang cucu Mbah Ni yang demi dia, Mbah Ni rela bolak-balik ke sekolah dua kali  pagi ini sampai akhirnya nyawanya berakhir di jalan ini. Saiful yang belum paham sepenuhnya apa yang terjadi, hanya melangkah dengan wajah polosnya.

Allah…! Saiful kecil si anak yatim tanpa saudara kini kehilangan neneknya yang setiap hari mengantar dan menemaninya di sekolah, sementara ibunya bekerja di gudang ikan dekat rumahnya.

Tegarlah Nak, jadilah anak yang berpendidikan tinggi dengan topi seragam terakhir yang diantar nenekmu. Topimu adalah simbol dedikasi seorang nenek yang berjuang tanpa lelah demi pendidikan sang cucu.

Selamat jalan mbah, Ni. Tepat di hari pendidikan Nasional ini, engkaulah salah satu pejuang pendidikan. Semoga jalanmu dilapangkan. Aamiin…

 



02 Mei 2023

 

 

 

 

 

 

Widayanti Rose
Teacher, Writer and Trainer

Related Posts

2 comments

MARI BEKERJA said…
Ini fiksi apa non fiksi???? Taggar dunk
Widayanti Rose said…
kisah nyata. terima kasih atas masukannya, sudah saya eksekusi